ESENSI
SILATURRAHIM*
Di antara arti kata esensi adalah
“intisari, pokok, dan atau hakikat." Untuk kepentingan tulisan ini,
pengertian yang dipakai untuk istilah esensi adalah hakikat.
Adapun
kata silaturrahim berasal dari bahasa Arab: shilat dan ar-rahim.
Shilat berarti hubungan atau perhubungan. Ar-rahimi
berarti peranakan, rahim ibu, tali kekeluargaan, dan atau persaudaraan. Dengan
demikian, istilah shilat ar-rahimi berarti “hubungan
kekeluargaan/kekerabatan/persaudaraan yang dibingkai dalam wadah kasih sayang
(rahim) seorang ibu.” Atas dasar pengertian ini berarti semua manusia itu
bersaudara; semua manusia itu sekeluarga; semua manusia itu berada dalam
bingkai kasih sayang; semua manusia itu beribu satu, beribu yang sama. Hal ini
berarti, esensi atau hakikat shilaturrahim adalah “hubungan dengan sesama
sebagai saudara, sebagai keluarga, sebagai kerabat, yang saling sayang
menyayangi, meski sesama (orang lain itu) tidak bertalian darah.”
Singkatnya, esensi silaturrahim adalah hubungan kasih sayang persaudaraan.
Hubungan yang demikian ini bisa terwujud apabila seseorang selalu memandang
orang lain sebagai saudara atau sebagai keluarga/kerabat.
Walaupun
yang dipakai di sini istilah silaturrahim, tetapi istilah yang populer
di masyarakat adalah istilah shilat ar-rahmi. Istilah ini tidak
dijumpai dalam hadis Rasulullah SAW. Rasul menggunakan istilah shilaturrahim.
Akan tetapi, istilah shilaturrahmi tampaknya tidak salah untuk
digunakan, karena kata rahmi merupakan bentuk lain dari kata rahmat
yang merupakan masdar dari kata rahima-yarhamu (mengasihi, menyayangi).
Silaturrahim
berfungsi sebagai: Sarana diterimanya amal sehingga bisa masuk surga,
sebagaimana hadis: “Tidak akan diterima amalnya pemutus silaturrahim (HR
Ahmad)” dan “Tidak akan masuk orang yang memutuskan hubungan kasih
sayang persaudaraan.” Sarana
diluaskannya rizki dan dipanjangkannya umur, seperti hadis yang artinya: “Barangsiapa
mencintai supaya (Allah) meluaskan baginya rizkinya dan memperpanjang umurnya,
maka sambunglah hubungan kasih sayang persaudaraan” (HR Bukhari-Muslim) dan
“Sesungguhnya dengan sedekah dan silaturrahim itu Allah akan menambah umur,
menghapuskan mati tidak baik, menolak tipu daya dan rasa takut (Abû Ya'lâ).” Sarana
diturunkannya rahmat, seperti yang diriwayatkan Al-Ashbahânî: “Sesungguhnya rahmat itu
tidak akan diturukan kepada suatu kaum yang di dalamnya terdapat pemutus
silturrahim.”
Hubungan kasih sayang
persaudaraan yang demikian itu dapat terwujud apabila seseorang punya rasa
kasih sayang di dalam dirinya sehingga bisa memandang orang lain sebagai
saudara atau sebagai keluarga/kerabat. Artinya, kasih sayang di dalam dirinya
memancar kepada orang lain, meski orang lain itu mungkin saja tidak mau
berhubungan dengannya. Apabila orang itu sudah mampu mewujudkan hubungan kasih
sayang persaudaraan kepada orang yang tidak mau berhubungan dengannya atau
orang yang tidak mau berbuat baik kepadanya, maka ia betul-betul telah
merealisasikan esensi silaturrahim. Rasulullah bersabda: Artinya: “Bukanlah yang
namanya menyambung hubungan kasih sayang persaudaraan itu yang sebanding,
(yakni menghubungi orang yang menghubunginya, mengunjungi orang yang
mengunjunginya, berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadanya, atau
karena ia bersilaturrahim kepada saya, maka saya pun bersilaturrahim
kepadanya), tetapi yang ketika orang lain memutuskan hubungan kasih sayang
persaudaraan kepadanya ia menyambungnya (HR Bukhari)” dan “Tiga
hal yang apabila orang memilikinya, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab
yang mudah dan dengan rahmat-Nya Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
Sahabat bertanya: “Apa tiga hal itu ya Rasulallah?” Dijawab Rasul: “Memberi kepada orang yang
mengharamkan pemberianmu, menyambung persaudaraan orang yang memutuskan persaudaraan
denganmu, dan memaafkan orang yang menzalimu. Apabila kamu melakukan tiga hal ini,
maka kamu akan masuk surga” (HR Al-Thabrani dan Al-Hakim).
Dari makna esensi silaturrahim yang
disebutkan dua hadis di atas, maka bisa dipahami kalau Rasulullah menyatakan
seperti: “tidak akan sempurna keimanan seseorang kalau ia tidak mencintai
saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” HR Bukhari-Muslim. “Bukan
orang yang beriman orang yang kekenyangan sementara tetangganya kelaparan.” HR
Bukhari. “Bukan termasuk umatku orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil
dan mengetahui hak orang yang lebih besar.” HR Al-Thabrani. “Demi Allah tidak
beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman orang yang
tetangganya tidak aman dari gangguannya.” HR Ahmad dan Bukhari.
Di samping itu, dapat dipahami pula
kenapa Nabi melarang umatnya untuk menyakiti tetangganya, “Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sakiti tetangganya.” HR Bukhari.
Begitu pula bisa dipahami bila Rasulullah memerintahkan berbuat baik kepada
tetangga, memuliakan tamu, menyambung hubungan kasih sayang persaudaraan, dan
berkata yang benar. “Barangsiapa beriman kepada Allah, maka berbuat baiklah
terhadap tetangganya.” HR Muslim. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka muliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir,
maka sambunglah hubungan kasih sayang persaudaraan. Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang benar atau diam saja.” HR
Bukhari-Muslim.
Dengan demikian, realisasi dari esensi
silaturrahim itu berarti bukan sekadar saling kunjung mengunjungi, tetapi juga saling
bantu membatu atau saling tolong menolong. Bahkan, esensi silaturrahim adalah
memberi orang yang mengharamkan pemberiannya, menyambung hubungan dengan orang
yang memutuskan hubungan, dan memaafkan orang yang menyakitinya. Termasuk dalam
pengertian ini adalah membantu orang lain yang orang lain itu tidak mungkin
bisa membantunya. Di sinilah, tampaknya, infaq dan sedekah dianjurkan sebagai
bentuk hubungan kasih sayang persaudaraan terhadap sesama, meski orang yang
diberi infaq atau sedekah itu tidak bisa membalas apa-apa kecuali, barangkali,
doa.
Walhasil, orang yang tidak mau
membantu sesama, tidak mau berinfaq dan bersedekah berati orang itu termasuk
pemutus hubungan silaturrahim, hubungan kasih sayang persaudaraan. Wallahu
a‘lam.
*Makalah
ini disusun oleh Dimyati Sajari sebagai bahan Pengajian Bulanan yang diadakan
oleh Seksi Penamas Kandepag Kab. Tangerang, 1 Agustus 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar