BELAJAR
DARI HAJAR
-
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari
syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baytullah atau
ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘y antara keduanya. Dan
barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka
sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah: 158).
-
Ketika Ibrahim menempatkan Hajar di tempat yang gersang,
tandus dan sangat asing baginya, maka Hajar pun bertanya kepada suaminya,
“Apakah ini kehendak Allah?” Ibrahim menjawab bahwa apa yang ia lakukan semata-mata
hanya berdasarkan perintah Allah. Karena perintah atau kehendak Allah, maka
Hajar rela ditinggalkan suaminya di tempat yang gersang, tandus dan jauh dari
tempat tinggal suaminya. Ia pasrah pada kehendak mutlak Allah. Ia rela
ditinggalkan hanya bersama anaknya, Ismail. Tidak ada orang lain. Di sini
berarti, orang Islam harus patuh dan tunduk kepada kehendak mutlak Allah.
-
Setelah perbekalan yang ia bawa habis, maka Hajar tidak
duduk termangu dan menangis putus asa menyesali nasib. Tidak. Hajar tidak duduk
berpangku tangan sambil menunggui puteranya. Ia tidak mengharapkan keajaiban.
Ia tidak mengharapkan kedatangan tangan gaib yang akan membawakan buah-buahan
dari sorga dan membuatkan sungai untuk menghilangkan lapar dan dahaganya.
Tidak. Ia “serahkan” anaknya kepada Allah, kemudian berlari-lari mencari air.
Dari sini berarti orang harus berserah-diri hanya kepada Allah, kemudian
berusaha, bukan berpangku tangan, bukan menyesali nasib, bukan meratap
menangis, dan bukan berdoa mengharapkan keajaiban.
-
Jerih payah Hajar tidak mendatangkan hasil. Dengan sedih
ia kembali ke tempat anaknya. Akan tetapi, di tengah-tengah kedukaannya itu ia
terkejut: Anak yang ditinggalkannya dalam keadaan haus dan meronta-ronta di
bawah “penjagaan” Allah itu ternyata telah menggali pasir dengan tumitnya dan
dari tempat yang tidak disangka-sangka itu keluarlah air yang ia cari-cari.
Inilah Zamzam. Ia (zamzam) diperoleh setelah berdaya upaya walau didapat bukan
di tempat di mana ia dicari. Pelajaran yang bisa diambil adalah rizki hanya
diperoleh hanya melalui usaha, setelah usaha. Kalau dari tempat usaha
(beraktifitas, beramal) itu tidak mendapatkan apa-apa, bisa jadi Allah akan
memberinya dari tempat lain yang tak terduga sebelumnya. Jadi, bisa saja rizki
yang diperoleh itu tidak dari tempat di mana ia berusaha/bekerja. Di sini
berlaku yarzuqhu min haytsu la yahtasib (memberinya rizki dari tempat
yang tidak disangka-sangka).
-
Hajar mencari air dimulai dari bukit Shafa,
kemudian berlari ke bukit Marwa. Shafa berarti “kesucian” dan Marwa
berarti “kemurahan dan kemaafan.” Berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit
Marwa disebut Sa‘y. Kata sa‘y merupakan bentuk mashdar dari kata sa‘a
- yas‘a - sa‘yan yang berati “berusaha, berkerja, berjalan, berlari.” Sa‘y
ini dilakukan dengan gerak mau ke depan di jalan yang lurus. Ini berarti, orang
harus berusaha. Usahanya diawali dari tempat yang suci, dengan niat yang suci
dan dijalani dengan bergerak maju di atas jalan yang lurus. Berlari bolak-balik
adalah sebuah evaluasi diri yang senantiasa harus dilakukan untuk menilai diri
supaya kerja/usaha yang dilakukan tetap berpijak pada tempat yang suci, niat
yang suci, dan tetap ditempuh di jalan yang lurus, jalan yang benar.
-
Hasil dari usaha itu berakhir di Marwa yang berarti
“kemurahan dan kemaafan.” Artinya, hasil usaha tidak untuk dinikmati sendiri,
tetapi untuk kepentingan bersama, sebagaimana air Zamzam bukan hanya untuk
Hajar dan Ismail, tetapi untuk seluruh umat manusia. Kalau ternyata orang yang
ikut menikmati hasil usaha itu tidak berterima kasih kepadanya, maka ia harus
berlapang dada memaafkannya.
-
Wallahu a‘lam
-
Ciputat, 17 Januari 2006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar